Jakarta, Otodiva – Mazda comes to IIMS 2026 without many gimmicks. Di saat banyak brand sibuk pamer elektrifikasi atau fitur futuristis, Mazda justru memilih pendekatan yang lebih kalem lewat tema “Vibrance in Every Move”. Intinya, mereka ingin menegaskan identitas, bukan bikin kejutan.
Bintang utamanya adalah The New Mazda CX-60 Sport. Bukan model baru sepenuhnya, tapi versi yang dipoles ulang supaya terasa lebih sporty dan, yang lebih penting, lebih relevan secara harga. Mazda seolah ingin bilang bahwa CX-60 tetap jadi representasi brand, tapi tidak harus terasa terlalu jauh dari realita konsumen Indonesia.
Masalahnya, pasar sekarang jauh lebih riuh. SUV besar, hybrid, bahkan EV, makin banyak pilihannya. Jadi pertanyaannya sederhana, cukupkah CX-60 Sport untuk bikin orang berhenti melirik kompetitor?
Read Also: IIMS 2026: BAIC BJ30 HEV Split into Three Variants, Hybrid with Promising Performance
CX-60 Sport: Tetap Enak Dikendarai, Tapi Bukan Paling Canggih

Secara karakter, Mazda CX-60 Sport masih sangat Mazda. Fokusnya ada di rasa berkendara, comfort, dan kualitas material. Velg 20 inci dengan finishing baru bikin tampilannya lebih berisi dan maskulin, cocok buat yang ingin SUV besar tanpa kesan terlalu mewah.
Mazda CX-60 juga masih diposisikan sebagai halo product, dan itu terasa. Mobil ini bukan soal adu fitur, tapi soal feel. Buat pengemudi yang peduli setir, suspensi, dan bagaimana mobil “berkomunikasi”, CX-60 punya nilai lebih yang sulit dijelaskan di brosur.
However, di titik ini juga kelihatan keterbatasannya. Dengan harga di kisaran Rp718 jutaan, Mazda CX-60 Sport harus berhadapan dengan SUV hybrid dan EV yang menawarkan teknologi lebih modern, layar lebih besar, dan fitur bantuan pengemudi yang lebih agresif. On paper, Mazda jelas bukan yang paling “wah”.
Strategi Mazda: Jaga Basis, Bukan Kejar Tren
Kehadiran Mazda CX-80 PHEV dan CX-30 di booth Mazda menunjukkan mereka sadar arah pasar. Elektrifikasi sudah masuk, tapi Mazda tidak memaksakan diri jadi pionir. Pendekatannya masih bertahap dan sangat terukur.
Kekuatan Mazda tetap ada di pengalaman kepemilikan. Test drive, after sales service, dan filosofi Omotenashi masih jadi senjata utama untuk menjaga loyalitas pelanggan, terutama di kota besar seperti Jakarta yang jadi pasar terkuat mereka.
Tapi jujur saja, tantangannya ke depan tidak kecil. Konsumen SUV premium makin rasional dan tech-oriented. Kalau Mazda terlalu lama bermain aman, risiko ditinggal bukan tidak mungkin.
Mazda di IIMS 2026 terasa dewasa dan konsisten. CX-60 Sport jadi cerminan pendekatan itu. Mobil yang enak, neat, dan berkarakter, tapi harus berjuang lebih keras untuk tetap relevan di tengah pasar yang makin agresif.
