ジャカルタ, Otodiva – Mobil klasik selalu punya daya tarik tersendiri, apalagi jika dikaitkan dengan nama besar dalam dunia balap. その1つはです Mercedes-Benz 190 E 2.3-16, sedan ikonik era 1980-an yang kini kembali mencuri perhatian publik. Bukan tanpa alasan, unit yang tengah dilelang oleh RM Sotheby’s di London ini diketahui pernah dimiliki oleh Ayrton Senna, legenda Formula 1 yang dikenal sebagai salah satu pembalap terbaik sepanjang masa.
Di mata penggemar otomotif, Mercedes 190 E 2.3-16 bukan sekadar sedan mewah, melainkan simbol inovasi Mercedes pada masanya. Dikembangkan bersama Cosworth, mesin empat silindernya menghasilkan tenaga yang cukup besar untuk ukuran era 80-an, sekaligus menawarkan pengalaman berkendara yang sporty. Dengan segala reputasi itu saja, mobil ini sudah punya nilai historis tinggi. Apalagi jika ditambah status kepemilikan dari seorang Senna, nilainya jelas melesat.
しかし, harga fantastis yang diprediksi bisa mencapai tiga kali lipat banderol Mercedes-Benz S-Class terbaru tetap menimbulkan perdebatan. Di satu sisi, ada nilai sejarah yang sulit ditakar dengan nominal. Tapi di sisi lain, tidak sedikit yang menilai bahwa harga tersebut lebih didorong oleh sentimen emosional daripada aspek fungsional kendaraan.
また読んでください: 日産は正式に生産GT-R R35を停止します, 時代の終わり
Sejarah Singkat: Dari Race of Champions ke Garasi Senna

Keterkaitan Senna dengan Mercedes 190 E 2.3-16 berawal dari Race of Champions 1984, sebuah ajang balap yang mempertemukan para pembalap papan atas. Senna yang saat itu masih muda berhasil menorehkan kemenangan menggunakan 190 E versi balap ringan. Pengalaman itu membuatnya jatuh hati, hingga pada Oktober 1985 ia membeli sendiri unit dengan warna Smoke Silver Metallic—sama seperti mobil kemenangannya.
Mobil tersebut ia gunakan selama dua tahun di Inggris, menempuh hampir 25.000 mil sebelum akhirnya dijual karena harus pindah ke Monaco jelang kontraknya dengan McLaren. Sejak itu, 190 E ini berpindah tangan beberapa kali namun tetap dirawat dengan baik. それ, jarak tempuhnya tercatat sekitar 154.000 mil, lengkap dengan catatan servis dan dokumen pembelian asli yang menunjukkan keterkaitan langsung dengan Senna.
Kondisi mobil pun terbilang istimewa. Eksterior tampak terawat dengan baik, mulai dari bodi, lampu depan, hingga spoiler belakang. Interior didominasi warna hitam dengan sentuhan kayu pada konsol transmisi manual. 興味深い, mobil ini punya kombinasi unik: kursi depan elektrik, tetapi jendela belakang masih manual. Sistem pendingin udara pernah dinonaktifkan saat mobil sempat dibawa ke Australia, namun dapat dipulihkan sesuai kebutuhan.
Nilai Koleksi dan Tantangan Pasar

パフォーマンスの観点から, Mercedes 190 E 2.3-16 jelas tidak bisa disandingkan dengan sedan modern. Mesinnya yang bertenaga 183 hp memang cukup bertenaga pada masanya, dengan akselerasi 0–100 km/jam sekitar delapan detik. Tetapi bagi kolektor, performa bukan lagi alasan utama. Nilai sejarah, kelangkaan, dan terutama koneksi langsung dengan Ayrton Senna menjadi faktor yang mendorong harga lelangnya meroket.
Meski begitu, pandangan skeptis tetap muncul. Beberapa pengamat menilai harga yang diprediksi mencapai tiga kali lipat S-Class baru lebih banyak ditopang faktor emosional. Pada akhirnya, mobil klasik semacam ini punya pasar yang sangat spesifik, yaitu kolektor dengan minat tinggi pada sejarah balap dan nama besar Senna. Bagi konsumen biasa, sulit membayangkan mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk sedan lawas dengan teknologi terbatas.
Lelang ini sekaligus menunjukkan bagaimana dunia otomotif klasik semakin bergeser menjadi arena investasi. Mobil dengan riwayat pemilik legendaris cenderung dihargai sangat tinggi, bahkan melebihi nilai fungsionalnya. Apakah 190 E 2.3-16 milik Senna benar-benar layak dihargai setinggi itu? Jawabannya akan ditentukan oleh para kolektor, yang bukan hanya membeli sebuah mobil, tetapi juga sepotong sejarah Formula 1.