Close Menu
Otodiva
  • Our Family:
  • Gadgetdiva
  • Traveldiva
  • Gizmologi
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Our Family:
  • Gadgetdiva
  • Traveldiva
  • Gizmologi
Sabtu, 8 Agustus 2026 5:57 am
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
Otodiva
  • HOME
  • NEWS

    Mobil Listrik Indonesia, Mana Teknologi yang Paling Tepat?

    7 Agustus 2026 6:41 pm

    Menuju Target Global 2030, Bosch Perkuat Ekosistem Keselamatan Otomotif di GIIAS 2026

    7 Agustus 2026 2:03 pm

    Dorong Standar Keselamatan, Mitsubishi Fuso Beri Sertifikasi 34 Karoseri Nasional

    7 Agustus 2026 2:00 pm

    Sambung Inspirasi di GIIAS 2026, Hyundai Jump School Bekali Pelajar SMK Menuju Perguruan Tinggi

    7 Agustus 2026 1:57 pm

    Menjamin Operasional Tanpa Henti, Strategi Mitsubishi Fuso Tekan Downtime Armada Niaga

    7 Agustus 2026 1:50 pm
  • RODA 4
  • RODA 2
  • Tips
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
    • Indonesia
    • Chinese
    • Japan
Otodiva
You are at:Home»News»Mobil Listrik Indonesia, Mana Teknologi yang Paling Tepat?
News

Mobil Listrik Indonesia, Mana Teknologi yang Paling Tepat?

herningBy herning7 Agustus 2026 6:41 pmTidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

OtoDiva, Tangerang – Perkembangan kendaraan elektrifikasi terutama mobil listrik di Indonesia terus melaju pesat. Namun di tengah meningkatnya pilihan kendaraan listrik, hybrid, hingga plug-in hybrid, muncul satu pertanyaan penting: teknologi mana yang sebenarnya paling sesuai bagi masyarakat Indonesia?

Pertanyaan tersebut menjadi fokus utama Dialog Otomotif Nasional yang diselenggarakan Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) dalam rangka GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Tangerang Selatan.

Forum yang diikuti sekitar 80 peserta dari kalangan industri otomotif, akademisi, media, hingga pengamat ekonomi itu mengangkat tema “The Right Fit for Indonesia: Teknologi Elektrifikasi Seperti Apa yang Dibutuhkan Indonesia?”. Diskusi ini bertujuan mencari solusi terbaik berdasarkan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar membandingkan keunggulan masing-masing teknologi.

Ketua Umum ICMS Munawar Chalil mengatakan Indonesia membutuhkan ruang diskusi yang objektif dan berbasis data agar transisi menuju kendaraan elektrifikasi berjalan lebih efektif.

“Indonesia tidak membutuhkan perdebatan mengenai teknologi mana yang paling unggul, tetapi yang ingin kita cari bersama adalah teknologi, atau bahkan kombinasi teknologi, yang paling tepat untuk Indonesia,” ujar Munawar.

Sementara itu, Sri Vista Limbong mewakili Seven Event selaku penyelenggara GIIAS mengapresiasi penyelenggaraan forum tersebut karena dinilai mampu memperkaya diskusi mengenai masa depan industri otomotif nasional.

Pasar Sudah Menentukan Pilihannya

Paradiva, data pasar menunjukkan kendaraan elektrifikasi semakin diterima masyarakat Indonesia. Sepanjang semester pertama 2026, penjualan kendaraan penumpang elektrifikasi meningkat sekitar 68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pangsa pasarnya pun melonjak dari 23 persen menjadi 38 persen.

Meski kondisi ekonomi nasional masih menghadapi tantangan, tren tersebut justru menunjukkan konsumen mulai menemukan kendaraan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Joshua Pardede, Chief Economist Permata Bank, menilai pertumbuhan kendaraan elektrifikasi tidak hanya terjadi pada satu jenis teknologi.

Menurutnya, Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), maupun Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) sama-sama mengalami peningkatan penjualan.

“Kenaikan serentak ketiga teknologi elektrifikasi menunjukkan bagaimana konsumen memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan pola penggunaan kendaraan secara pribadi, bukan memilih satu teknologi yang paling unggul,” jelas Joshua.

Ia menjelaskan BEV lebih cocok digunakan untuk mobilitas harian dengan intensitas tinggi, sementara HEV menjadi pilihan ideal bagi pengguna yang sering melakukan perjalanan jauh tanpa harus bergantung pada stasiun pengisian daya. Adapun PHEV berfungsi sebagai solusi transisi karena menggabungkan keunggulan motor listrik dan mesin bensin.

Namun demikian, Joshua mengingatkan masih ada sejumlah tantangan yang harus diselesaikan. Infrastruktur SPKLU baru mencapai sekitar 52 persen dari target nasional. Selain itu, pembiayaan otomotif masih tumbuh terbatas, sementara nilai jual kembali kendaraan listrik murni juga masih menjadi perhatian konsumen.

Menurutnya, kebijakan pemerintah perlu memberikan kepastian jangka panjang melalui insentif berbasis emisi serta percepatan pembangunan infrastruktur pengisian daya.

Setiap Teknologi Punya Peran Berbeda

Diskusi juga menghadirkan berbagai produsen otomotif yang menawarkan pendekatan berbeda dalam mendukung elektrifikasi Indonesia.

Philardi Ogi, Public Relation & Motorsport Manager PT Toyota Astra Motor, menjelaskan Toyota tetap mengusung strategi Multi-Pathway, yakni menyediakan berbagai pilihan teknologi sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan konsumen.

Menurutnya, kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) masih memiliki peran penting, terutama di luar kota besar. Sementara itu, HEV menjadi solusi elektrifikasi yang praktis tanpa memerlukan pengisian baterai eksternal, sedangkan BEV lebih ideal untuk penggunaan di kawasan perkotaan. PHEV hadir sebagai jembatan yang mengombinasikan efisiensi listrik untuk perjalanan harian dengan fleksibilitas mesin bensin saat bepergian jauh.

Philardi menambahkan pendekatan tersebut juga didukung riset dan pengembangan lokal sehingga mampu menghasilkan nilai tambah melalui produksi dalam negeri, penguatan rantai pasok, peningkatan kualitas SDM, hingga peluang ekspor.

Senada dengan itu, Ricky Christian, Marketing Director Wuling Motors, mengungkapkan pangsa pasar New Energy Vehicle (NEV) di Indonesia meningkat dari hanya 2 persen pada 2022 menjadi sekitar 21 persen pada 2025.

Ia melihat minat masyarakat terhadap kendaraan listrik terus meningkat karena biaya operasional yang lebih hemat, kenyamanan berkendara, serta dukungan teknologi yang semakin baik.

Meski demikian, sebanyak 73 persen konsumen masih memilih kendaraan berbahan bakar konvensional. Faktor seperti kekhawatiran terhadap baterai, biaya perawatan, hingga keterbatasan jarak tempuh masih menjadi alasan utama.

Karena itu, Wuling menghadirkan strategi Multi-Powertrain dengan berbagai pilihan model agar konsumen dapat memilih kendaraan sesuai kebutuhan masing-masing.

Sementara itu, Arie Hermawan, Deputy Chief Representative Indonesia Changan Auto Southeast Asia, memperkenalkan teknologi Range Extended Electric Vehicle (REEV) yang menawarkan pengalaman berkendara layaknya mobil listrik tanpa kekhawatiran kehabisan daya.

Menurutnya, setiap konsumen memiliki kebutuhan berbeda sehingga Changan menyediakan pilihan HEV, PHEV, REEV, hingga BEV. Strategi tersebut sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060 melalui peluncuran 15 model baru hingga 2028.

Di sisi lain, Geely juga menekankan pentingnya pendekatan yang lebih pragmatis. Melalui investasi besar pada riset dan pengembangan, perusahaan menghadirkan berbagai teknologi mulai dari mesin ICE yang lebih efisien, hybrid generasi terbaru, hingga kendaraan listrik premium melalui merek ZEEKR.

Geely menilai elektrifikasi tidak dapat dilakukan dengan pendekatan tunggal. Pengembangan teknologi harus disesuaikan dengan kesiapan infrastruktur serta kebutuhan konsumen di setiap daerah.

Dialog Otomotif Nasional ini diharapkan memberikan pemahaman mengenai arah pengembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Bagi paradiva yang tengah mempertimbangkan beralih ke kendaraan elektrifikasi,  semoga membuka mata dengan jelas sehingga tidak salah pilih: yang  paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi infrastruktur.

BEV Changan Geely GIIAS 2026 ICMS Industri Otomotif kendaraan elektrifikasi mobil hybrid Mobil Listrik Mobil Listrik Indonesia toyota Wuling
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleMenuju Target Global 2030, Bosch Perkuat Ekosistem Keselamatan Otomotif di GIIAS 2026
herning

Related Posts

Menuju Target Global 2030, Bosch Perkuat Ekosistem Keselamatan Otomotif di GIIAS 2026

7 Agustus 2026 2:03 pm

Dorong Standar Keselamatan, Mitsubishi Fuso Beri Sertifikasi 34 Karoseri Nasional

7 Agustus 2026 2:00 pm

Sambung Inspirasi di GIIAS 2026, Hyundai Jump School Bekali Pelajar SMK Menuju Perguruan Tinggi

7 Agustus 2026 1:57 pm
Leave A Reply Cancel Reply

RSS GadgetDIVA
  • MR.D.I.Y. Kirim Seniman Indonesia ke Kompetisi Asia Tenggara
  • Baterai Tahan Seminggu dan Bebas Ribet, Ini 5 HP 4G Tombol Murah 300 Ribuan Terbaik Agustus 2026!
  • Sentuhan Mewah Mesin Meca-Quartz dan Dial Sunray, Timex Resmi Rilis Dua Seri MK1 Chronograph Terbaru!
  • Gemini Ambil Alih Google Assistant Mulai 4 September 2026
  • Tampil Elegan dengan Warna Baru, Fire-Boltt Resmi Buka Tabir HP Boltt Ace dan Evo!
© 2026 Otodiva, Online media for ladies auto enthusiast. Powered by PT Konten Cipta Kreatif.
  • Home
  • Tentang Otodiva
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Ad Blocker Enabled?
Ad Blocker Enabled?
Iklan membantu Otodiva untuk terus menghadirkan konten berkualitas. Dukung kami dengan menonaktifkan Adblocker.