SUBANG, JAWA BARAT — BYD Indonesia resmi membuka fasilitas produksi kendaraan energi baru di Subang, Jawa Barat. Berdiri di atas lahan seluas 126 hektare, fasilitas ini menjadi bagian penting dari ekspansi BYD sekaligus upaya memperkuat industri kendaraan energi baru di Indonesia.
Dalam sambutannya pada peresmian pabrik, Liu Xueliang, Vice President BYD Co., Ltd. sekaligus General Manager BYD Asia Pacific Auto Sales Division, mengatakan pembangunan fasilitas tersebut merupakan realisasi komitmen yang disampaikan BYD sejak pertama kali hadir di Indonesia.

Liu mengungkapkan, dirinya pertama kali datang ke Subang pada 2023. Ketika itu, kawasan yang kini menjadi fasilitas produksi BYD masih berupa lahan kosong.
Menurut dia, sejak awal BYD memiliki ambisi untuk membangun fasilitas produksi kendaraan energi baru yang tidak hanya melayani pasar Indonesia, tetapi juga membawa teknologi manufaktur modern ke Tanah Air.
Kini, fasilitas tersebut telah memasuki tahap operasional dengan sekitar 5.000 pekerja lokal dari berbagai daerah. Jumlah itu diproyeksikan meningkat hingga sekitar 20.000 tenaga kerja ketika pabrik mencapai kapasitas penuh.
“Indonesia membutuhkan penguatan melalui teknologi dan industri agar potensi besar negeri ini dapat semakin berkembang,” kata Liu.
Selain membuka lapangan kerja, keberadaan pabrik tersebut diharapkan memperkuat kemampuan sumber daya manusia Indonesia dalam industri otomotif. BYD juga membawa sistem produksi yang mencakup empat proses utama, yakni stamping, welding, painting, danassembly.
Dengan fasilitas tersebut, BYD ingin membangun basis produksi yang terintegrasi sekaligus menjadi bagian dari ekosistem otomotif nasional.
Perluas Pilihan Kendaraan Energi Baru
Ekspansi BYD di Indonesia tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fasilitas produksi. Perusahaan juga menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen Indonesia yang semakin beragam.
Liu mengatakan, dalam dua tahun terakhir BYD banyak menerima masukan dari konsumen mengenai tantangan penggunaan kendaraan listrik, terutama terkait ketersediaan fasilitas pengisian daya.
Karena itu, BYD menghadirkan teknologi dual-mode (DM) yang menggabungkan tenaga listrik dan mesin konvensional. Di sisi lain, kendaraan listrik murni tetap tersedia untuk konsumen yang membutuhkan mobilitas berbasis listrik sepenuhnya.
Langkah tersebut menunjukkan strategi BYD untuk memperluas adopsi kendaraan energi baru dengan menyesuaikan teknologi terhadap kondisi dan kebutuhan pasar Indonesia.
“Memenuhi kebutuhan konsumen merupakan misi jangka panjang perusahaan, sedangkan memastikan setiap janji diwujudkan merupakan bagian dari DNA BYD,” ujar Liu.
Jaringan Dealer Ditargetkan Tembus 200 Gerai
Pertumbuhan bisnis BYD di Indonesia juga ditopang oleh perluasan jaringan penjualan. Saat ini, BYD telah memiliki lebih dari 100 gerai penjualan di berbagai wilayah Indonesia.
Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 200 gerai pada tahun depan. Perluasan jaringan dealer dinilai penting untuk mendekatkan produk sekaligus layanan purnajual kepada konsumen.
Liu memberikan apresiasi kepada para mitra dealer yang selama ini mendukung perkembangan BYD di Indonesia.
Menurutnya, pencapaian penjualan hingga saat ini tidak terlepas dari peran jaringan dealer dalam menghadirkan produk dan layanan BYD kepada konsumen di berbagai daerah.
Bagi paradiva yang mengikuti perkembangan kendaraan listrik, langkah BYD tersebut menunjukkan bahwa persaingan otomotif Indonesia kini tidak hanya berkaitan dengan produk, tetapi juga investasi, teknologi, sumber daya manusia, dan pembangunan ekosistem.
Liu menegaskan, BYD ingin menjadikan fasilitas di Subang bukan sekadar pabrik, melainkan bagian dari perjalanan Indonesia menuju industri otomotif yang lebih maju dan berkelanjutan.
“Hari ini bukan sekadar tentang dibukanya fasilitas BYD di Indonesia, tetapi tentang kontribusi BYD bagi kemajuan ekonomi Indonesia dan Subang, Jawa Barat,” pungkas Liu.
