Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian Republik Indonesia, pada sambutannya di Grand Inauguration of BYD Indonesia Factory di Subang, Jawa Barat mengatakan keputusan BYD membangun fasilitas produksi di Indonesia merupakan hasil dari proses panjang dan diplomasi pemerintah untuk menarik investasi strategis ke sektor kendaraan listrik.
Menurut Agus, salah satu tokoh yang berperan dalam proses tersebut adalah Luhut Binsar Pandjaitan, yang ketika itu menjabat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Diplomasi tersebut berjalan seiring dengan komitmen Indonesia terhadap pengendalian perubahan iklim serta agenda hilirisasi sumber daya alam.

Agus mengaku menyaksikan langsung proses pengawalan investasi BYD, termasuk diplomasi pemerintah ke kantor pusat perusahaan di Shenzhen, China, hingga proses kesepakatan investasi dengan pemerintah Indonesia.
“Pak Luhut terus tanpa henti memperjuangkan agar investasi masuk ke Indonesia, termasuk BYD,” ujar Agus.
Menurut dia, masuknya investasi kendaraan listrik juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah, termasuk Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Kebijakan tersebut kemudian diperkuat dengan berbagai aturan mengenai investasi, pengembangan kendaraan listrik, fasilitas pembiayaan, bea masuk, hingga insentif lainnya.
Manufaktur Indonesia Naik Kelas
Agus juga menyoroti perkembangan industri manufaktur nasional. Meskipun Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur pada Agustus mengalami penurunan, kinerja industri secara keseluruhan dinilai masih menunjukkan tren positif.

Berdasarkan data yang disampaikan Agus, pertumbuhan industri manufaktur pada kuartal II 2026 mencapai 5,32 persen. Kinerja tersebut menunjukkan daya tahan sektor industri di tengah dinamika ekonomi global.
Indikator lainnya juga memperlihatkan perkembangan positif, mulai dari kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB), ekspor, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja.
Agus menambahkan, posisi manufaktur Indonesia juga dapat dilihat melalui Manufacturing Value Added (MVA). Berdasarkan data Bank Dunia, MVA Indonesia pada 2025 mencapai 275,61 miliar dolar AS, naik dari 265,07 miliar dolar AS pada 2024.
Kenaikan tersebut membawa Indonesia naik satu peringkat dalam pemeringkatan global, dari posisi ke-13 menjadi ke-12. Di kawasan ASEAN, Indonesia tercatat sebagai negara dengan nilai tambah manufaktur terbesar.
“Kalau kita disiplin menjalankan program dan terus meningkatkannya, saya kira dalam waktu dekat kita bisa menyusul atau paling tidak mendekati negara-negara yang sudah lebih maju,” kata Agus.
Jawa Barat Jadi Basis Industri
Pemilihan Jawa Barat sebagai lokasi fasilitas produksi BYD dinilai strategis. Provinsi tersebut merupakan salah satu pusat industri terbesar di Indonesia.
Pada kuartal II 2026, ekonomi Jawa Barat tumbuh 5,73 persen. Kontribusinya terhadap PDB nasional mencapai 12,86 persen, menjadikannya salah satu kontributor terbesar secara nasional.

Dari sisi manufaktur, Jawa Barat berada di posisi teratas dengan kontribusi sekitar 27,32 persen terhadap industri manufaktur nasional. Nilai tambah industri pengolahannya mencapai sekitar Rp331,16 triliun.
Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi pengembangan fasilitas produksi BYD sekaligus pembentukan ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri.
BYD Kuasai 43 Persen Pasar Kendaraan Listrik
Kehadiran BYD juga mulai mengubah peta persaingan kendaraan listrik Indonesia. Pemerintah mencatat BYD menguasai sekitar 43 persen pangsa pasar kendaraan listrik produksi dalam negeri.
Agus menilai peresmian fasilitas produksi BYD di Subang menjadi momentum penting bagi penguatan industri kendaraan listrik nasional. Menurutnya, investasi tersebut harus diarahkan agar tidak hanya memperbesar pasar domestik, tetapi juga memperkuat kapasitas manufaktur Indonesia.
“Peresmian fasilitas produksi pada hari ini menjadi momentum penting karena saya yakin akan menandai langkah BYD dari keberhasilan pembukaan pasar menuju penguatan kegiatan manufaktur di dalam negeri,” ujar Agus.
Pemerintah berharap fasilitas BYD di Subang juga dapat berkembang menjadi basis produksi untuk memenuhi pasar ekspor. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi turut mengambil peran dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan ekosistem yang lebih luas, mulai dari pengolahan bahan baku, produksi baterai dan battery pack, manufaktur kendaraan, industri komponen, hingga daur ulang baterai.
Peningkatan penggunaan komponen lokal juga menjadi perhatian. Kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik diarahkan meningkat secara bertahap, sehingga investasi otomotif dapat memberikan nilai tambah yang semakin besar bagi industri nasional.
Paradiva, perkembangan tersebut menunjukkan persaingan kendaraan listrik Indonesia memasuki babak baru. Persaingan bukan lagi hanya mengenai penjualan, tetapi juga kemampuan membangun pabrik, memperkuat pemasok lokal, meningkatkan teknologi, menciptakan lapangan kerja, dan membuka jalur ekspor.
Agus menegaskan investasi BYD diharapkan menjadi bagian dari transformasi industri nasional menuju manufaktur dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
“Investasi di dalam negeri harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemajuan industri nasional dan pada akhirnya memperkuat ekonomi Indonesia,” ujar Agus.
